Thursday, 4 May 2017

Demon

" Wen,  kemarilah, ikutlah bersamaku "
" Wen,  apa kamu tidak merindukan aku? "
" Wen...."
Kata-kata itu selalu terdengar di kepalaku,  suara lelaki yang sangat halus,  terkadang aku merasa bahwa suara itu sangat familiar namun aku tidak tau siapa.
Aku bergegas mengemasi barang-barangku dan bersiap untuk berangkat bekerja. Entah kenapa hari ini jalanan sangat sepi sekali, hanya beberapa kendaraan yang lewat, toko dan pedagang kakilima pun hampir semua tutup.
Laju kendaraan kucepatkan berharap segera sampai si tempat kerja,  aku memakirkan sepeda motorku dan segera membuka salon.
Seperti biasa, setelah membersihkan salon aku duduk santai bermain handpone sambil menunggu pelanggan datang. Hari sudah menjelang petang,  aku bergegas mengemasi barang-barangku,  saat aku akan mengangkut tasku ada pelanggan datang, aku pun langsung menyapa pelanggan itu.
Seorang wanita cantik, badan proposional, berambut sebahu, berkulit sawo matang,  perkiraanku umurnya sekitar 25tahun dan membawa seorang anak laki-laki, berambut kriting berkulit hitam,  mungkin umurnya sekitar 8tahun.
Aku pun menanyakan perawatan apa yang ia ingingkan
A: mau perawatan apa mbak?
B: potong rambut aja mbak dipendekin aja,  sekalian nanti di styling ya!
A: oh iya mbak,  silahkan duduk disini.
A: adek duduk di kursi sana ya!
Anak lelaki itu tidak menjawab dan langsung berlari ke tempat duduk yang aku tunjukan.
A: rumahnya mana mbak?
B: oh deket sini aja mbak,  kalau mbak mana?
A: oh saya di bulumas mbak.
B: oh. Jauh juga ya mbak.
A: iya mbak, ini tadi jalannya kok sepi banget ya mbak.
B: masak sih mbak?  Menurutku biasa aja.
Aku langsung terdiam mendengar jawaban darinya,  jalan raya sesepi ini di bilang biasa?  Padahal biasanya rame. Hanya beberapa toko saja yang buka.  Kalaupun libur nasional harusnya semakin rame?  Tapi?  Ah mungkin ada acara desa setempat.
Selesai memotong rambut,  aku menyapu rambut yang terpotong,  menyiapkan catok dan memberikan vitamin pada rambut pelanggan.  Tiba-tiba telingaku berdengung...
" Wen,  ayo pulang "
" Wen,  ikutlah bersamaku "
" Wen,  bukankah kau bilang tidak akan meninggalkanku "
" Wen.... "
Tiba-tiba aku di kagetkan dengan tepukan tangan dari pelanggan.
B: kenapa mbak?  Mbaknya sakit?
A: oh maaf mbak,  ini telingaku sakit sekali berdengung tadi,  tapi sekarang sudah tidak.
B: oh gitu
A: iya mbak maaf
Aku langsung mencatok rambut pelanggan sesuai dengan modelnya.
Setelah selesai,  aku merapikan alat-alat yang aku gunakan dan bergegas ke meja kasih untuk memberikan nota pembayaran. Saat si pelanggan memberikan uang dan aku mau menerimanya tangannya tidak di lepas.
B: "Wen.. "
Aku terkejut,  bagaimana pelanggan tau kalau itu namaku?  Aku tidak berani menatap wajahnya
B: "Wenny... "
Dia mengulanginya bahkan dengan nama Wenny.
B: "Wenny Pratiwi"
Tanganku seketika langsung dingin, bagaimana tidak?  Bagaimana dia bisa tau nama lengkapku tanpa bertanya kepadaku?  B: "Wenny.... "
Aku langsung menatap wajah pelanggan dan betapa terkejutnya ternyata dia membawa sebuah pisau,  aku langsung melepaskan tanganku dan berjalan mundur.
"jlebbbb" terdengar suara tusukan,  saat aku menoleh kebelakang ternyata anak lelaki itu menusukku. Dan wanita itu menarikku dan menusuk bagian jantungku dia bahkan mengulanginya berkali-kali. Aku tak sadarkan diri.
"Wen.... "
"Wennnn..... "
"Weny.. "
Suara itu terdengar lagi,  kali ini suara perempuan.
"Wenny... "
Tolong aku siapapun itu,  bawa aku ke rumah sakit.. Tolongg
"Wenny"
Aku pun terbangun,  huffttt ternyata hanya mimpi, badanku dingin seketika.
A: "mimpi yang sangat buruk"
A: "ka,  ada apa? "
Ternyata kakakku yang membangunkan aku,  aku pun menepuk bahunya dan memanggilnya tapi dia tidak menoleh sedikitpun.
"Wennyy... "
A: "ka,  ada apa?  Aku udah bangun ini,  kakk"
Kakak ku tetap tidak menjawab,  bahkan dia berteriak memanggil saudaraku yang lain dan orang tuaku. Aku pun terkejut dan menepuk bahunya lebih keras
A: "kak,  ada apa sih?  Kasih tau aku dong kak?"
Kakakku tetap tidak menjawab,  saudaraku dan orang tuaku langsung masuk kekamarku, menghampiri kakakku dan langsung menangis.
A: "kak,  ada apa?  Bapak?  Ibuk?  Adek?  Ada apa sih kok nangis?
Mereka tetap tidak menjawab, telingaku terasa sakit lagi
"wen,  lihatlah kebelakang"
Suara lelaki itu?  Aku pun langsung gemetar dan pelan-pelan menengok kebelakang.
Deg,  betapa terkejutnya aku melihat diriku sedang tertidur,  lalu, kok,  ha kok bisa? Aku langsung turun dari tempat tidurku, menepuk-nepuk bahu keluargaku,  tapi kok gak bisa. Tiba-tiba ada lelaki menggunakan kaos hitam putih  masuk
C: "wen,  ikutlah bersamaku"
A: "siapa kamu? "
C: "kamu lupa? Aku Ari,  teman kamu? "
A: "teman? "
C: "kamu lupa?  Bukannya kita dulu selalu bersama? "
A: "Ari? Bukannya kamu"
C: "Wen,  ayo ikut aku"
A: "enggak,  kamu mau bawa aku kemana "
Ari pun menarik tanganku dengan sangat kasar,  bahkan aku sampai terjatuh dan dia tetap menarikku keluar kamar.
Dia berhenti,  melepaskan tangannya dan pelan-pelan berbalik ke belakang, dan ternyata dia bukan Ari tetapi wanita yang menusukku di salon.  Dia pun langsung menjambakku dan menusuk bagian leherku berkali-kali.  Dia pun berjalan menuju ke kamar ku, aku yang sudah sekarat berusaha menahan dia,  aku memegang kakinya tetapi dia menendang kepalaku.  Aku tetap berusaha mengejarnua,  tapi apa daya dia sampai duluan di kamar,  aku berusaha bangun dan berjalan, tapi aku terlambat, saat aku sampai di depan kamarku, aku melihat keluargaku sudah di bantai olehnya.
Dia mendekat,  berjalan menuju arahku, dia berhenti tepat di dwpan wajahku lalu menusuk perutku berkali-kali,  aku yang sudah tak berdaya langsung tergeletak di lantai,  pengelihatanku samar-samar jelas,  aku melihatnya tertawa seperti orang gila,  lalu dia menusuk-nusuk perutnya sendiri bahkan dia melakukannya sambil tertawa, lalu dia membuang pisaunya, dan mengambil matanya.
"sudah puas kau sekarang hihi, sekarang kamu tidak bisa menggangguku lagi hihi,  aku bebass" dia tertawa terbahak-bahak


No comments:

Post a Comment

Sombong iso ngrusak kekancan

Tema                 : Kekancan Alur                   : Maju Tokoh                : 1.       Sule as Novita 2.       Ibuk e sule...